AAL SI “PENCURI SENDAT JEPIT” & MATINYA RASA KEMANUSIAAN NEGERI INI

“Eehhmm… lagi-lagi rasa kemanusiaan kita sebagai bangsa negara dipertanyakan…. Hukum di negara ini seperti “bangsat”.. di betawi “Bangsat” sejenis binatang kecil yg baunya sangat menyekat, untuk membinasakannya harus bakar “merang”. Hanya karena dituduh mencuri sepasang sendal jepit seharga 30.000 rupiah dari seorang Briptu Rusdi, si AAL siswa SMK harus menerima putusan hukum 5 tahun penjara….”

Pelajar Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 3 Palu, di Jalan Tanjung Santigi, Palu Selatan, Sulawesi Tengah AAL (15), kini duduk dikursi pesakitan. Sebab, polisi dan jaksa menuduhnya mencuri sandal seharga Rp 30 ribu milik Briptu Ahmad Rusdi Harahap.  Mungkin dalam bahasa anak sekarang, kasus ini “lebay”.

Sebagai anggota polisi, harusnya Ahmad Rusdi Harahap menghormati Surat Edaran Kapolri tentang restorasi justice. Dalam surat tersebut dinyatakan dalam penanganan kasus pidana yang melibatkan anak, penegak hukum harus melihat kepentingan perkembangan anak. Bukan menegakkan hukum formal semata. Kita semua sangat prihatin. Seharusnya aparat membimbing anak tersebut dan tidak membawanya sampai ke pengadilan. Polisi memanggil orang tua dan pihak terkait untuk musyawarah atas tindakan yang harus diberikan ke anak. Namun faktanya, kasus ini telah memasuki sidang pengadilan. Sehingga kita perlu mengetuk hati hakim untuk menggunakan hati nuraninya dalam memutus. “Dengan membawa anak ke pengadilan maka membuat trauma. Sidang dan penjara tidak merubah anak.

… koruptor dihukum dua atau tiga tahun, sementara pencuri sandal dihukum lima tahun, itu akan sangat menyakitkan. Itu sangat menyinggung rasa kemanusiaan…

Jakarta (ANTARA News) – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) bersimpati kepada AAL, remaja berusia 15 tahun yang terancam hukuman lima tahun penjara karena mencuri sandal jepit milik Briptu Anwar R Harahap, anggota Brimob Polda Sulawesi Tengah. Ketua Umum PB NU, KH Said Aqil Siraj, di Jakarta, Senin, meminta majelis hakim yang menyidangkan kasus tersebut lebih mengutamakan rasa kemanusiaan dalam mengambil putusan.

“Tujuan hukuman adalah mewujudkan kehidupan yang harmonis dan stabil. Apakah mencuri sandal tidak salah? Itu tetap salah, tapi hukuman yang diberikan kepada seorang pencuri sandal harus adil, harus mengutamakan kemanusiaan,” katanya.

Said Aqil mengatakan, yang disebut keadilan bukanlah sebatas teks hukum yang tertera dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Hukuman yang diberikan kepada pelaku tindak pidana haruslah adil, dengan mengedepankan rasa kemanusiaan. Ia juga meminta jangan sampai hukuman yang dijatuhkan kepada pencuri sandal jauh lebih berat dibandingkan koruptor, yang dalam sejumlah kasus di Indonesia divonis antara dua hingga hingga lima tahun.

“Kalau koruptor dihukum dua atau tiga tahun, sementara pencuri sandal dihukum lima tahun, itu akan sangat menyakitkan. Itu sangat menyinggung rasa kemanusiaan,” tandasnya.

Lebih lanjut Said Aqil mengatakan, majelis hakim yang ditugaskan menyidangkan kasus tersebut hendaknya lebih memiliki nurani dalam bertugas. Ini diharapkan menghasilkan vonis yang adil dengan tetap mengutamakan rasa kemanusiaan.

Negara ini memiliki sistem perundang2an yg cukup lengkap, namun terkesan sedikit lucu dan norak. Sebab, seharusnya usia anak tersebut masih dibawah 18 tahun belum bisa dikenakan pasal pencurian dari KUHP, ditambah dengan ada undang-undang perlindungan anak yg mengatur ttg hal tersebut. Seharusnya pengadilan bukanlah satu2nya jalan utk mendapatkan keadilan, masih ada musyawarah secara kekeluargaan, mediasi, arbitrase dan penyeleseain sengketa lain non meja hijau. Kenyataan yg terjadi pencuri sandal sama koruptor milyaran sama hukumannya.

Mari kita hitung-hitung seandainya hukuman pencuri sendal bisa diterapkan kepada para “anjing” koruptor, maka jika mencuri sendal seharga Rp 30.000 saja terancam hukuman maksimal 5 tahun, maka jika ada kasus korupsi uang negara sampai 1 trilyun, seharusnya terancam hukuman selama :

= (Rp 1.000.000.000.000 : Rp 30.000) x 5 tahun
= 33.333.333,33 x 5 tahun
= 166.666.666,7 tahun.
= seumur hidup !!!

Pertanyaannya “kira-kira seperti itukah hukuman bagi anjing2 koruptor negeri ini?? haaaaaaaaa…. mari kita ngakak.

………………..

INNA LILLAHI WA INNA ILAHI RAJI’UN………………………….. UNTUK MATINYA RASA KEMANUSIAAN DI NEGERI INI!!!

Semakin merusak hati untuk meneruskan cerita kebobrokan akan penegakan hukum negeri ini… ya kita sudahi saja khutbah gak berguna ini… sekian…

SILAKAN BERSAMBUNG DI KOMENTAR..🙂

About bahrudin Achmad

Cuma orang Goblok yg ingin Ngeblog....... Apa yg kutulis inilah caraku....sampean mau suka atau tidak itu urusan sampean.... :D
This entry was posted in Celoteh si Kethir and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to AAL SI “PENCURI SENDAT JEPIT” & MATINYA RASA KEMANUSIAAN NEGERI INI

  1. siusoro says:

    kurang ajar Hukum di Indonesia. Menguntungkan orang2 maling kelas tinggi koruptor milyaran rupiah karena semua yg membuat undang undang adalah anjing anjing yg dipelihara koruptor yg kampanye dulu dimodalin koruptor hingga dia jadi pemimpin. Inilah Negara Republik Brengsek.
    Aku muak bernegara di Sini. Ijinkan aku minta tiket untuk pergi dari negara ini atau mati sekalipun akan kutempuh
    wasalam yudi siu

  2. Hukumnya sih bener… cuma para penegaknya ini yg memang agak2 lebay mas bro… hee..he…
    Yuk perbaikin sama-sama pelaksanaan hukum di Indonesia ini…

Jangan Lupa Komentarnya....... Tinggalkan jejak anda dengan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s