RAMADHAN DAN PRILAKU SOSIAL

https://i0.wp.com/www.wartakota.co.id/upload/photo/2009/08/22/f81f3e3962b01d8b9c2e221e01a62582.JPGRamadhan, dengan kedatangannya telah membuat banyak perubahan pada rutinitas sosial masyarakat. Banyak umat Islam sibuk membicarakan tentang mudik, silaturrahmi untuk saling bermaafan dengan orang tua, mertua dan sanak-saudara. Bahkan sampai mempersiapkan sejumlah uang sebagai bekal untuk menyambut kedatangan bulan yang mulia tersebut. Para pengurus DKM masjid bersama masyarakat sangat sibuk mengurus segala sesuatunya, mulai dari menyusun program acara yang akan dilaksanakan dalam mengisi bulan tersebut. Mungkin, seperti itulah lazimnya kebiasaan umat Islam setiap tahun dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan.

Bahkan, sudah bukan hal yang aneh, setiap menjelang bulan suci Ramdhan tentunya telinga ketika akan sering mendengar RAZIA, minuman keras, tempat-tempat pelacuran, tempat judi dan tempat-tempat maksiat lain yang dilakukan oleh pihak Polisi, Satpol PP, atau Ormas-Ormas Islam. Sehingga muncul dalam benak saya dari fenomena perlakukan sosial diatas, Apakah pelacuran, berjudi, meminum minuman keras, dan perbuatan-perbuatan maksiat yang lain itu hanya dianggap dilarang dan diharamkan hanya di saat bulan suci Ramadhan saja? Atau anda akan berdalih ini demi menghormati kesucian bulan Ramadhan? Apakah ini sudah menjadi budaya MUSIMAN? Apakah dengan perlakuan yg salah kaprah ini lalu ramadhan akan ternodai dalam arti akan pernah lenyap kesuciannya?? Bagi saya RAMADHAN AKAN TETAP MENJADI SUCI, ada atau tidaknya fenomena sosial tersebut.

Ramadhan adalah software cleaner adi kodrati. Sebuah medan waktu pembersih terhadap segala karat, cokies, jungkies, dan segala sampah registri religius dalam diri manusia. Almarhum KH. Zainuddin MZ dalam ceramahnya yg indah kerapkali menerangkan bahwa ada 3 hal dalam Ramadhan yang kerapkali dijadikan sebagai bahan penggembira bagi si pelakunya. (1) 10 hari pertama adalah fase rahmat, (2) 10 hari kedua adalah fase pengampunan, dan (3) 10 hari terakhir adalah fase siapa-siapa saja yang terpilih sebagai penghuni sorga (dijauhkan dari api neraka).

Ramadhan, adalah bulan dimana banyak sekali plugin dan tools optimasi religius. Banyak bonus disediakan. Segala kebaikan yang dilakukan selama bulan puasa akan dinilai berpahala sekian kali lipat. Bahkan tidur selama bulan puasa pun dinilai sebagai pahala di sisi Allah SWT. Setan dan iblis dipenjara, sehingga kita bebas dari segala godaan dan bujuk rayu kejahatan.

Di sisi lain, para pelaku ramadhan seperti kehilangan substansi akan makna yg mendalam dari ramadhan itu sendiri. Kesadaran umat mulai bergeser, ramadhan yg seharusnya dijadikan sebagai medan penempaan diri (tanpa kita sadari) kini berubah menjadi ritualitas perburuan babak bonus dan karnaval sosial. Dalam rangka menghias diri dan mempompa nafsu yang tertahan untuk dilepaskan begitu Adzan Magrib sebagai waktu berbuka mulai bergema. Dan itu terbukti dari jumlah hidangan yang meningkat di meja makan. Terbukti dari statistik belanja rumah tangga yang melonjak tajam di bulan Ramadhan. Harga sembako melambung. Inikah sejatinya ramadhan?? saya rasa TIDAK!!

https://i2.wp.com/www.matanews.com/wp-content/uploads/BelanjaLebaran060909-2-582x443.jpg

(budaya berbelanja pada hari-hari terakhir Ramadhan… inikah sejatinya puasa????)

Parade manusia berjilbab, artis berjilbab, ucapan akan simbol-simbol agama laris manis pada bulan ramadhan. Para selebritis yg pada bulan-bulan lain selalu berpenampilan sexy, memamer buah dada, memamerkan kemulusan paha, ketika ramadhan tiba, mereka serentak berubah total dengan dalih menghormati ramdhan yg mulia itu. Namun, setelah ramadhan berlalu, mereka akan kembali lagi ke habitat aslinya yaitu sexy, modis, montok dengan buah dada sebagai andalan, sehingga substansi ramadhan sebagai bulan penempaan tidak lagi terjamah. Bila seperti ini, ramadhan hanya akan menjadi ritual+seremonial tahunan bagi umat. Inikah sejatinya ramadhan?? saya rasa TIDAK!!

Ramadhan seharusnya dijadikan bulan penempaan dan bulan spiritual penuh keikhlasan, bukan menjadikannya sebagai bulan yang penuh sensasi dengan melonjaknya statistik pengeluaran rupiah, bergaya modis dengan tampil menggunakan pakaian baru. Bahkan, lucunya bulan ramadhan kerap dijadikan moment munculnya banci-banci kaleng disetiap penayangan waktu berbuka dan saat makan sahur yg selalu marak disajikan oleh stasiun-stasiun Televisi. Itu sebabnya begitu Ramadhan berakhir, kondisi moralitas sosial tetap sama.

https://bahrudinblog.files.wordpress.com/2011/07/lawak.jpg?w=200

Oleh karena itu, mari kita sambut gembira hadirnya bulan Ramadhan dengan tidak untuk gembar gembor seremonial dan arak-arakan sosial belaka. Seyogyanya ramadhan kita jadikan sebagai bulan untuk membangkitkan kesadaran yang mendalam yang dapat merangsang gairah psikologis untuk optimasi diri. Menjadikan ramadhan sebagai bulan penempaan, bulan melatih spiritual dengan ekstra ketat, agar secara psikologis, semuanya saling termotivasi dan terinspirasi. Dengan harapan, hasilnya terlihat di bulan sesudah Ramadhan. Amiin…..

Yuk berpuasa😀

About bahrudin Achmad

Cuma orang Goblok yg ingin Ngeblog....... Apa yg kutulis inilah caraku....sampean mau suka atau tidak itu urusan sampean.... :D
This entry was posted in Celoteh si Kethir and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Jangan Lupa Komentarnya....... Tinggalkan jejak anda dengan komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s